Teks Resensi film pendek "IRIS"
Ketika Warna Bukan Segalanya “Iris”
Judul Resensi Film Pendek : IRIS
Sutradara : Dira Nararyya
Produksi Film Pendek : Neofreak Picture
Rumah Produksi : Universitas Multimedia Nusantara
Penulis : Thomas, Hanan Cinthya
Sejak melihat film pendek ini saya menjadi sadar bahwa mensyukuri nikmat Tuhan sangatlah penting. Kita patut bersyukur karena sudah dilahirkan dengan kondisi fisik yang utuh dan normal. Iris merupakan film pendek pemenang Festival Film Pendek Indonesia (FFIP) kategori umum tahun 2014. Tiga mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN), yaitu Dira Nararyya, Thomas, Hanan Cinthya membuat sebuah film pendek mengenai sudut pandang penderita buat warna atau deuteranopia dalam memandang sekitar.
Film “IRIS” menceritakan tentang seorang penderita Deuteranopia (Buta warna sebagian) yang berusaha mengatasi kekuarangannya. Dibawa dengan monolog, film ini menceritakan dirinya sendiri. Marceli sang tokoh utama dalam film Iris ini dibingungkan dengan pikirannya yang bertanya bagaimana orang lain melihat dunia. Apakah mereka melihat seperti apa yang dilihat olehnya? Seperti warna apa itu? Orang berkata bahwa ia hanya melihat warna yang satu, sedangkan mereka melihat warna yang lain. Akhirnya ia sadar satu hal bahwa dunia bukan seperti apa dilihatnya, namun persfektifnya sendiri saat melihat dunia tersebut. Dengan monolog, ia membawa penonton juga bertanya seperti apa yang ia tanyakan. Dira Nararyya sebagai sutradara menciptakan aktor yang bisa membawa penonton masuk ke dalam dunianya film pendek ini memberikan arti lebih kepada penonton bahwa semua hal di dunia ini bermula dari pikiran. Rasa senang, sedih, takut, cinta, bahkan warna. Dari semua film pendek, Iris merupakan film yang membuat colour-garding menjadi film pendek yang sangat memuaskan. Film ini tidak hanya sekedar tentang seorang manusia penderita buta warna sebagian, tapi lebih tentang mencari jati diri dari jutaan pertanyaan yang sering muncul sesaat sebelum kita tidur.
Kelebihan film berdurasi kurang dari 10 menit ini adalah begitu rapi menceritakan perasaan seorang laki-laki penderita buta warna melalui monolog tokoh tunggal Marceli dan penggambaran peristiwa yang mengambil sudut pandang si tokoh yang buta warna. Saya begitu terpesona dengan pemilihan adegan yang saya pikir sangat sesuai dengan monolog. Dari awal Marceli membawa mata penonton untuk melihat apa yang Marceli lihat. Tidak hanya itu, menurut saya film ini juga ingin mengatakan “Kanan mu, bukan kananku.” Dengan cara lain atau simpelnya apa yang kita anggap benar belum tentu benar di mata orang lain yang memiliki sudut pandang yang berbeda. Sedangkan, kelemahan film ini terdapat pada monolog yang sulit dipahami oleh penonton.
Dari film pendek ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan atas kesempurnaan sebagai manusia. Kita juga harus menghargai satu sama lain. Selalu berfikiran positif dan melakukan hal-hal positif serta percaya diri atas kemampuan kita masing-masing. Hendaknya film ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh penonton karena tentu tidak kalangan khusus yang menonton film ini melainkan dari semua kalangan.
UNSUR-UNSUR TEKS RESENSI
Judul Resensi : Ketika Warna Bukan Segalanya "IRIS"
Identitas
Judul film : IRIS
Penulis : Thomas, Hanan Cinthya
Sutradara : Dira Nararyya
Produksi film : Neo Park Picture
Rumah produksi: Universitas Multimedia Nusantara
Pendahuluan atau Pembuka Resensi
Sejak melihat film ini, saya menjadi sadar bahwa mensyukuri nikmat tuhan sangatlah penting ......................... membuat sebuah film pendek mengenai sdudut pandang penderita buta warna atau Deuteranopia dalam memandang sekitar.
Isi Resensi
a). Sinopsis
Film Iris menceritakan tentang seorang penderita Deuteranopia (buta warna sebagian) yang berusaha mengatasi kekurangannya. Dibawa dengan monolog, film ini menceritakan diri sendiri. Marcell sang tokoh utama dalam film ini dibingunkan dengan pemikirannya yang bertanya bagaimana orang lain melihat dunia ............................... film ini tidak hanya sekedar tentang seorang manusia penderita buta warna sebagian, tapi lebih tentang mencari jati diri dari jutaan pertanyaan yang sering muncul sesaat sebelum kita tertidur.
b). Kelemahan dan Keunggulan Buku
Kelemahan : Ada kalimat yang sulit dipahami
Keunggulan: Pemilihan adegan sesuai dengan monolog
Penutup
Dari film pendek ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan atas kesempurnaan sebagai manusia. Kita juga harus menghargai satu sama lain. Selalu berfikiran positif dan melakukan hal-hal positif serta percaya diri atas kemampuan kita masing-masing. Hendaknya film ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh penonton karena tentu tidak kalangan khusus yang menonton film ini melainkan dari semua kalangan.
KAIDAH KEBAHASAAN TEKS RESENSI
Menggunakan Konjungsi Penerang (bahwa, yakni, yaitu)
Data: Film pendek ini memberikan arti lebih kepada penonton bahwa semua hal di dunia ini bermula dari pemikiran.
Penjelasan: kata “bahwa” merupakan konjungsi penerang, ia berfungsi menerangkan kalimat sebelumnya.
Menggunakan Konjungsi Temporal (sejak, semenjak, berikutnya, kemudian, kemudian, akhirnya, belakangan)
Data: Sejak melihat film pendek ini saya menjadi sadar bahwa mensyukuri nikmat Tuhan sangatlah penting.
Penjelasan: Kata “sejak” merupakan konjungsi temporal, karena ia berfungsi menunjukkan keterangan waktu.
Menggunakan Konjungsi Penyebaban (karena,sebab)
Data : Kita patut bersyukur karena sudah dilahirkan dengan kondisi fisik yang utuh dan normal.
Penjelasan: kata “karena” merupakan konjungsi penyebaban, karena ia berfungsi menunjukkan keterangan sebab akibat.
Menggunakan Pernyataan-pernyataan yang berupa saran atau rekomendasi pada bagian akhir teks
Data: Hendaknya film ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh penonton karena tentu tidak kalangan khusus yang menonton film ini melainkan dari semua kalangan.
Penjelasan: kata “hendaknya” merupakan kata saran karena memberikan saran terhadap objek karya tersebut.
Judul Resensi Film Pendek : IRIS
Sutradara : Dira Nararyya
Produksi Film Pendek : Neofreak Picture
Rumah Produksi : Universitas Multimedia Nusantara
Penulis : Thomas, Hanan Cinthya
Sejak melihat film pendek ini saya menjadi sadar bahwa mensyukuri nikmat Tuhan sangatlah penting. Kita patut bersyukur karena sudah dilahirkan dengan kondisi fisik yang utuh dan normal. Iris merupakan film pendek pemenang Festival Film Pendek Indonesia (FFIP) kategori umum tahun 2014. Tiga mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN), yaitu Dira Nararyya, Thomas, Hanan Cinthya membuat sebuah film pendek mengenai sudut pandang penderita buat warna atau deuteranopia dalam memandang sekitar.
Film “IRIS” menceritakan tentang seorang penderita Deuteranopia (Buta warna sebagian) yang berusaha mengatasi kekuarangannya. Dibawa dengan monolog, film ini menceritakan dirinya sendiri. Marceli sang tokoh utama dalam film Iris ini dibingungkan dengan pikirannya yang bertanya bagaimana orang lain melihat dunia. Apakah mereka melihat seperti apa yang dilihat olehnya? Seperti warna apa itu? Orang berkata bahwa ia hanya melihat warna yang satu, sedangkan mereka melihat warna yang lain. Akhirnya ia sadar satu hal bahwa dunia bukan seperti apa dilihatnya, namun persfektifnya sendiri saat melihat dunia tersebut. Dengan monolog, ia membawa penonton juga bertanya seperti apa yang ia tanyakan. Dira Nararyya sebagai sutradara menciptakan aktor yang bisa membawa penonton masuk ke dalam dunianya film pendek ini memberikan arti lebih kepada penonton bahwa semua hal di dunia ini bermula dari pikiran. Rasa senang, sedih, takut, cinta, bahkan warna. Dari semua film pendek, Iris merupakan film yang membuat colour-garding menjadi film pendek yang sangat memuaskan. Film ini tidak hanya sekedar tentang seorang manusia penderita buta warna sebagian, tapi lebih tentang mencari jati diri dari jutaan pertanyaan yang sering muncul sesaat sebelum kita tidur.
Kelebihan film berdurasi kurang dari 10 menit ini adalah begitu rapi menceritakan perasaan seorang laki-laki penderita buta warna melalui monolog tokoh tunggal Marceli dan penggambaran peristiwa yang mengambil sudut pandang si tokoh yang buta warna. Saya begitu terpesona dengan pemilihan adegan yang saya pikir sangat sesuai dengan monolog. Dari awal Marceli membawa mata penonton untuk melihat apa yang Marceli lihat. Tidak hanya itu, menurut saya film ini juga ingin mengatakan “Kanan mu, bukan kananku.” Dengan cara lain atau simpelnya apa yang kita anggap benar belum tentu benar di mata orang lain yang memiliki sudut pandang yang berbeda. Sedangkan, kelemahan film ini terdapat pada monolog yang sulit dipahami oleh penonton.
Dari film pendek ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan atas kesempurnaan sebagai manusia. Kita juga harus menghargai satu sama lain. Selalu berfikiran positif dan melakukan hal-hal positif serta percaya diri atas kemampuan kita masing-masing. Hendaknya film ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh penonton karena tentu tidak kalangan khusus yang menonton film ini melainkan dari semua kalangan.
UNSUR-UNSUR TEKS RESENSI
Judul Resensi : Ketika Warna Bukan Segalanya "IRIS"
Identitas
Judul film : IRIS
Penulis : Thomas, Hanan Cinthya
Sutradara : Dira Nararyya
Produksi film : Neo Park Picture
Rumah produksi: Universitas Multimedia Nusantara
Pendahuluan atau Pembuka Resensi
Sejak melihat film ini, saya menjadi sadar bahwa mensyukuri nikmat tuhan sangatlah penting ......................... membuat sebuah film pendek mengenai sdudut pandang penderita buta warna atau Deuteranopia dalam memandang sekitar.
Isi Resensi
a). Sinopsis
Film Iris menceritakan tentang seorang penderita Deuteranopia (buta warna sebagian) yang berusaha mengatasi kekurangannya. Dibawa dengan monolog, film ini menceritakan diri sendiri. Marcell sang tokoh utama dalam film ini dibingunkan dengan pemikirannya yang bertanya bagaimana orang lain melihat dunia ............................... film ini tidak hanya sekedar tentang seorang manusia penderita buta warna sebagian, tapi lebih tentang mencari jati diri dari jutaan pertanyaan yang sering muncul sesaat sebelum kita tertidur.
b). Kelemahan dan Keunggulan Buku
Kelemahan : Ada kalimat yang sulit dipahami
Keunggulan: Pemilihan adegan sesuai dengan monolog
Penutup
Dari film pendek ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan atas kesempurnaan sebagai manusia. Kita juga harus menghargai satu sama lain. Selalu berfikiran positif dan melakukan hal-hal positif serta percaya diri atas kemampuan kita masing-masing. Hendaknya film ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh penonton karena tentu tidak kalangan khusus yang menonton film ini melainkan dari semua kalangan.
KAIDAH KEBAHASAAN TEKS RESENSI
Menggunakan Konjungsi Penerang (bahwa, yakni, yaitu)
Data: Film pendek ini memberikan arti lebih kepada penonton bahwa semua hal di dunia ini bermula dari pemikiran.
Penjelasan: kata “bahwa” merupakan konjungsi penerang, ia berfungsi menerangkan kalimat sebelumnya.
Menggunakan Konjungsi Temporal (sejak, semenjak, berikutnya, kemudian, kemudian, akhirnya, belakangan)
Data: Sejak melihat film pendek ini saya menjadi sadar bahwa mensyukuri nikmat Tuhan sangatlah penting.
Penjelasan: Kata “sejak” merupakan konjungsi temporal, karena ia berfungsi menunjukkan keterangan waktu.
Menggunakan Konjungsi Penyebaban (karena,sebab)
Data : Kita patut bersyukur karena sudah dilahirkan dengan kondisi fisik yang utuh dan normal.
Penjelasan: kata “karena” merupakan konjungsi penyebaban, karena ia berfungsi menunjukkan keterangan sebab akibat.
Menggunakan Pernyataan-pernyataan yang berupa saran atau rekomendasi pada bagian akhir teks
Data: Hendaknya film ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh penonton karena tentu tidak kalangan khusus yang menonton film ini melainkan dari semua kalangan.
Penjelasan: kata “hendaknya” merupakan kata saran karena memberikan saran terhadap objek karya tersebut.
Komentar
Posting Komentar